Ditulis oleh Anne Ahira
Sobat,
Banyak orang yang merasa frustasi karena kenyataan mereka tidak sesuai dengan impian. Sebagai
contoh, ada seorang anak yang ingin kuliah di Universitas A, tapi nyatanya biaya
tidak mencukupi. Atau, mereka yg merantau ke kota besar, bermimpi ingin
mendapatkan pekerjaan berkelas nasional bahkan internasional, tapi nyatanya yang
didapatkan hanyalah pekerjaan biasa-biasa saja & apa adanya. Ada juga seorang
pengusaha, yg mungkin mengharapkan kenaikan profit 10 kali, malah mengalami
kebangkrutan. Apa yang kita harapkan, kadang memang tidak sesuai dengan
kenyataan. Lalu apa yang harus kita lakukan? Berikut adalah 3 langkah atau tips yang bisa sobat
lakukan saat mimpi tidak sesuai dengan kenyataan:
1. Bertindaklah
selalu secara fleksibel dan dinamis
Jika sobat betul-betul ingin menggapai kesuksesan, maka diperlukan *kesiapan* untuk bisa bertindak
secara fleksible dan dinamis terhadap setiap perubahan yang terjadi. Sekarang, saya
akan buat sebuah analogi sederhana... Saat ada badai atau angin topan yang besar, tidak
jarang kita melihat pohon yang memiliki batang yang sangat besar tumbang! Apa sebab? Sebab
mereka tidak kuat menahan beban yang diterima. Namun coba tengoklah bambu!
Karena batangnya yang lentur, maka bambu bisa fleksibel bergerak ke segala
arah, dan jarang tumbang! Nah, begitu pun dengan kita! Jika kita bertindak dan
berpikir dinamis dan juga fleksibel, maka kita akan lebih tahan dalam menghadapi
tantangan dan perubahan serta masalah yang datang.
2. Berpikirlah
bahwa INILAH yang terbaik untuk kita!
Saat kenyataan tidak sesuai dengan impian, percayalah bahwa inilah yang terbaik untuk
kita. Kita tidak pernah tahu skenario yang telah ditetapkan-Nya. Karena, segala sesuatu yang
menurut logika kita baik, bisa jadi justru sebaliknya di mata Tuhan! Berpikirlah
selalu positif atas apapun yang terjadi pada diri sobat. Jangan biarkan satu
kegagalan membuat sobat kecewa, apalagi sampai frustasi dan berlarut-larut. Sobat tahu apa
yang saya lakukan jika ada satu mimpi atau keinginan saya tidak kesampaian? Saya biasa mengatakan:
"Sudahlah Ahira, kamu tdk perlu
kecewa, don't ask me why, it is GOOD for you! Sekarang kamu
dengarkan baik-baik, Tuhan akan menggantinya dengan YANG LEBIH BAIK! Tuhan tau
kamu orang yg baik & bijaksana. Hidupmu penuh dengan kelimpahan, dan kamu memang dilahirkan utk
slalu jadi pemenang!"
Saya biasa mengatakannya di depan cermin dengan penuh
keyakinan, tentunya saat saya sendirian! hehe... It works for me! :-) Sobat juga
boleh coba nanti ;-)
Apa yang saya lakukan di atas itu adalah 'afirmasi'. Afirmasi adalah
kata-kata positif yang diucapkan berulang-ulang & diyakini untuk membentuk citra positif untuk mengurangi sikap-sikap negatif dalam diri kita. Kata-kata
afirmasi ini bisa kita buat/rancang sendiri, dan lalu bisa diucapkan secara
verbal atau dalam hati. Menurut ahli Hynotherapy,
afirmasi itu akan 'terekam' oleh alam bawah sadar kita. Dan jika terus menerus
diucapkan & dengan penuh keyakinan, maka kita SEDANG atau AKAN menjadi
seperti itu adanya, yang kita ucapkan! Dengan kata lain, afirmasi itu sama seperti DO'A. Okay, sekarang selanjutnya! :-)
Meski saat ini apa yang kita harapkan belum sesuai dengan impian, namun kita harus....
3. Tetap Siapkan
MENTAL PEMENANG!
Saat kita mengalami kegagalan, lebih baik instropeksi diri daripada menyalahkan
takdir. Siapa tahu, kita memang belum siap jadi pemenang! :-) Bisa jadi kesuksesan
hanya akan membuat kita menjadi sombong, dan karena saking sayangnya Tuhan kepada
kita, Ia tidak mau hamba-Nya berbuat dosa. :-) Sobat, setiap kemenangan
itu lebih baik dirintis dari setiap peluh kita! Akan lebih baik jika
kemenangan itu kita dapatkan setahap demi setahap. Banyak orang sukses, tapi
kemudian mereka terjatuh. Ada yang bangkit lagi, ada yang tidak. Liku
hidup setiap manusia memang tidak sama. Tapi ingat, kesempatan untuk menang itu
selalu terbuka bagi siapa saja, tanpa terkecuali! Rejeki dan
kemenangan itu sungguh tidak terkira banyaknya dari Tuhan, masih banyak yang
menggantung di langit! :-) Sekarang tinggal bagaimana cara sobat! Apakah mau meraihnya?
atau mengharapkan turun dengan sendirinya? Saya sarankan, jangan pernah memilih yang kedua :-) Kita semua
tahu bahwa yang namanya kemenangan itu seringkali dimiliki oleh mereka yang... tdk pernah
berhenti berusaha!
Source:
http://amronbadriza.blogspot.com/2011/11/artikel-pendidikan-artikel-motivasi_2213.html#ixzz2AgZGBIrt
Read More ->>
Pendidikan yang baik memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tetapi dalam musyawarah itu selalu saja membebankan biaya kepada ortu dan tidak pernah secara kreatif mencari sumber-sumber dana lain seperti kerjasama dengan pihak industri. Jika kegiatan ini dilakukan tentu tidak akan banyak membebani ortu, terutama mereka yang kurang mampu membayar pungutan.
Bukan rahasia umum lagi bahwa dunia pendidikan kita sangat mudah dijadikan obyek bisnis bagi sebagian orang. Ini terlihat mulai dari menjamurnya bimbingan belajar (tes), uang masuk sekolah yang selangit, hingga digantinya buku-buku pelajaran dengan yang baru.
Semua itu tentu menjadi beban murid (orangtua) unruk membelinya. Pihak sekolah atau Kementerian Pendidikan seolah menutup mata akan beban orang tua atas biaya cukup besar saat mereka memasukkan 'buah hatinya' ke sekolah.
Sekolah seolah menutup telinga atas berbagai 'teriakan' dan keluhan orang tua terhadap banyaknya punglimi (pungutan liar tapi resmi) itu. Seperti biasa tentu pemangku kebijakan dan pihak penyelenggara pendidikan selalu siap dengan berbagai dalih jitu yang dapat dianggap sebagai pembenaran munculnya 'proyek' bisnis tersebut.
Alhasil, masyarakat miskin di negara kita makin trauma dan stres jika memasukkan anaknya ke sekolah karena biaya yang terus membengkak.
Kurangnya empati terhadap penderitaan rakyat merupakan fenomena yang (sudah biasa) terlihat pada sebagian kalangan berkuasa di negeri ini (pejabat) tatkala mengeluarkan kebijakan yang tidak bijak itu. Inilah pemandangan yang akrab kita lihat di berbagai sektor kehidupan.
Semua sektor kehidupan di masyarakat pun akhirnya nyaris ikut meniru atau 'mengcopy paste' nyaris sempurna mentalitas buruk si penguasa yang tidak empatik tersebut. Jadilah, sektor pendidikan melalui kalangan yang memiliki wewenang "mengatur" kegiatan pendidikan turut berperilaku tidak empatik atas penderitaan rakyat miskin.
Lebih jauh lagi,anggota komite sekolah yang berasal dari unsur orang tua umumnya berasal dari status sosial ekonomi menengah ke atas biasanya juga ikut-ikutan menyetujui apa yang diajukan pihak sekolah. Lengkaplah sudah sikap dan perilaku yang tidak memihak rakyat miskin dalam dunia pendidikan kita.
Penyelenggaraan pendidikan yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah sesuai amanah konstitusi RI kita, seakan dibiarkan "go public" alias mengikuti selera pasar bak pebisnis memanfaatkan peluang bisnisnya. Inilah salah satu efek dari apa yang dinamakan tata pandang neolib dalam pendidikan suatu paham yang membiarkan pendidikan mengkuti mekanisme pasar bebas. Pendidikan kita sangat kapitalistik, mereka mengandalkan dana, modal, uang atau kapital.
Orang kaya silakan maju dan menikmati pendidikan, orang miskin silahkan mundur dan tergusur. Inilah kondisi runyam pendidikan kita dewasa ini yang tak patut dijadikan contoh bagi generasi penerus pemerintahan.